Home » » Ramalan Joyoboyo

Ramalan Joyoboyo

Written By Torak Klanaroh on Monday, 2 September 2013 | 23:24

 Ramalan JoyoboyoRamalan Joyoboyo terkenal juga dengan sebutan Jangka Joyoboyo. Ramalan ini cukup populer di Indonesia, khususnya bagi orang Jawa. Banyak hal yang terjadi modern ini yang dihubung-hubungkan dengan Ramalan Joyoboyo. Bahkan, kejadian di masa mendatang juga banyak yang masih didasari dari ramalan ini.

Prabu Joyoboyo memiliki gelar Maharaja Jayabhaya. Jangan coba menghafalkan nama lengkapnya, yang akan membuat kita mengerutkan dahi. Nama lengkap Raja Kediri tahun 1135-1157 ini adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Kerajaan Kediri yang dipimpinnya sering juga disebut Kerajaan Panjalu. Kerajaan ini beribukota di Daha, daerah di sekitar Kota Kediri modern. Joyoboyo merupakan raja yang dianggap terbesar yang pernah memerintah Kediri. Dia berhasil menyatukan Kediri dengan Janggala, setelah mengalahkan kerajaan tetangganya itu. Kisah penaklukan itu dianggap seperti kemenangan Pandawa atas Kurawa dalam perang Bharatayudha yang disadur dari epos Mahabharata karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.

Joyoboyo bagi sebagian orang Jawa juga bisa berarti mitos dan legenda. Dia dianggap titisan Bathara Wisnu. Dia juga disebut merupakan keturunan dari Prabu Parikesit, cucu Arjuna. Bahkan, ada yang menganggap ketika dia akan wafat, dia telah memeluk agama Islam. Namun dari semua mitos dan legenda itu, tidak ada yang lebih terkenal dari ramalan ini.

Sang Penulis Ramalan Joyoboyo

Ramalan Joyoboyo yang dikenal sekarang ini ditulis oleh Pangeran Wijil I dari Kadilangu. Beliau adalah seorang pujangga sekaligus pangeran. Dia juga masih keturunan dari Sunan Kalijaga. Ramalan ini dikarang pada 1741-1743. Acuannya adalah Kitab Asrar gubahan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri III) yang ditulis 1618 dan Serat Mahabharata karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.

Ramalan Joyoboyo merupakan karya sastra yang cenderung diartikan secara mistis. Tidak ada bukti bahwa ramalan ini ditulis atau diucapkan langsung dari Prabu Joyoboyo. Dengan budaya tutur pada waktu itu, Ramalan Joyoboyo dianggap memang dituturkan Prabu Joyoboyo.

Hal ini ditegaskan dalam Kitab Asrar, yang mengatakan ramalan ini memang dibuat oleh Prabu Joyoboyo. Ramalan Joyoboyo juga dianggap sebagai karya sastra dengan penggunaan bahasa yang indah.

Mistisme Ramalan Joyoboyo

Ramalan ini sering dihubungkan dengan peristiwa terkini. Orang Jawa juga banyak yang menghubungkan Ramalan Joyoboyo dengan ramalan dari pujangga Surakarta, Ronggowarsito dengan ramalan Sabdapalon. Tokoh yang disebut terakhir adalah pamong dari Raja Brawijaya terakhir. Sedangkan mengenai ramalannya, lagi-lagi tidak jelas keasliannya.

Banyak yang menganggap isi ramalan dan lainnya irasional. Mungkin menyindir sedikit dengan istilah Jawa, gothak gathik gathuk. Apa saja yang tertuang di dalam ramalan jika dicocok-cocokkan nantinya akan cocok sendiri. Padahal belum tentu pengertiannya memang seperti itu.

Ramalan ini banyak berisi tentang zaman kesusahan di Nusantara, khususnya pulau Jawa. Istilahnya, zaman kalabendu atau zaman edan. Di masa-masa ini disebutkan bahwa orang harus edan dan jahat, kalau tidak mereka tidak akan menemui kenikmatan. Ramalan Joyoboyo juga mencirikan apa saja ciri dari zaman kalabendu ini.

Dalam ramalan ini juga, konon berisi pemimpin Nusantara selanjutnya, yang digelari Noto Nagoro. Orang lantas menghubungkan dengan Sukarno dan dilanjutkan dengan Suharto. Acuannya, dua huruf di belakang nama Soekarno, yakni “no” dan dua huruf di belakang nama Soeharto, yakni “to”. Dengan menggunakan pakem ini, selanjutnya presiden kita harusnya berakhiran huruf “na. Padahal, kita sama-sama tahu nama presiden ketiga kita bukan berakhiran “na”. Ada sebuah bait syair yang berbunyi:

“pancen wolak-waliking jamana, menangi jaman edan, ora edan ora kumanan, sing waras padha nggagas.”

Bait ini mungkin yang terkenal, selain dari Noto Nagoro. Isinya tentang sudah datangnya suatu zaman edan. Saat itu, orang yang tidak ikut edan tidak akan kebagian apa-apa. Sedangkan orang yang waras dan mampu berpikir sehat, tidak peduli lagi dengan sekitarnya.

Ciri-ciri selain itu banyak yang disebutkan dalam Ramalan Joyoboyo ini, antara lain sering terjadi bencana, orang yang jahat bersuka-ria, keserakahan di mana-mana, pemimpin tidak bisa dipercaya, orang jujur tidak dihargai, kelaparan, banyak ingkar janji, dan terjadi segala macam keburukan yang dilarang Allah.

Semuanya serba terbalik dengan norma dan nilai yang dianut. Misalnya banyak wanita yang menjual diri, bekerja, dan melamar pria. Yang kuat menang dan yang lemah diinjak-injak. Semuanya serba buruk. Bahkan diramal juga bahwa Cina dan Belanda akan bekerjasama. Sedangkan orang-orang Jawa tinggal setengah, artinya sudah tidak melaksanakan adatnya lagi.

Namun tidak perlu khawatir. ramalan ini tetap memberikan harapan. Setelah zaman yang serba susah ini, tidak lama kemudian akan muncul era keemasan. Ditandai dengan munculnya pemimpin yang adil.

Digambarkan orang ini memiliki paras seperti Kresna dan berwatak seperti Baladewa. Kresna dalam dunia pewayangan digambarkan memiliki tampang yang jenaka namun cerdas. Sedangkan watak dari Baladewa adalah tegas dan setia kepada kebenaran.

Ratu adil ini menggunakan pedoman dari Wedha dalam menjalankan kepemimpinannya. Bahkan ramalan ini menggambarkan dari mana asal dari pemimpin adil ini. Dia berasal dari kaki Gunung Lawu sebelah timur. Dia orang yang sederhana namun dapat menyelesaikan segala permasalahan.

Ramalan ini akan banyak dihubungkan dengan ramalan Ronggowarsito atau juga ramalan Sabdopalon. Sabdopalon dan kawannya Nayagenggong juga sering disebut dalam ramalan ini.

Ramalan Ronggowarsito, sebagaimana Joyoboyo, juga akan meramalkan munculnya ratu adil setelah zaman yang susah. Namun ratu adil ini akan didului oleh Satrio Pembuka Gerbang, yaitu pemimpin yang mempersiapkan rakyat Indonesia ke pada masa kegemilangan.

Sedangkan Sabdapalon, dianggap merupakan seorang punakawan, seorang Semar. Jadi dia nanti akan muncul mendampingi ratu adil, memimpin Nusantara di masa kegemilangan.

Menariknya Ramalan Joyoboyo

Ramalan ini sangat melegenda di sebagian rakyat Indonesia. Dalam melihat fenomena, sering dihubungkan dengan ramalan ini. Khususnya adalah fenomena di dunia politik, sosial, dan alam di Indonesia. Banyak yang memandang masa depan juga menggunakan ramalan ini.

Misalnya ramalan pemimpin Nusantara dalam bentuk Noto Nagoro tadi. Ramalan ini sangat terkenal pada masa kepemimpinan Sukarno dan Suharto. Wajar saja, karena masih dianggap cocok. Namun setelah Habibie jadi Presiden, ramalan ini kurang terdengar lagi.

Walau memang masih ada yang mengotak atik. Misalnya, Habibie merupakan presiden sementara, jadi tidak dihitung. Abdurrahman Wahid, dianggap cocok jika mengacu huruf “n” pada Noto Nagoro. Sedangkan Mega dianggap mewakili dari huruf “a”. Kenapa hanya satu huruf? Karena masa kepemimpinan mereka yang pendek. Sedangkan huruf “g” akan memenuhi untuk nama Susilo Bambang. Namun sekali lagi, semua itu terkesan dipaksakan, gothak gathik gathuk.

Fenomena zaman edan juga akan menarik untuk dilihat. Dengan ciri-ciri zaman edan yang disebutkan, sungguh memang bisa banyak ditemui saat ini. Namun kesusahan sudah dialami kakek moyang kita sejak zaman ramalan ini ditulis. Kita tidak bisa mengatakan bahwa zaman sekarang ini lebih edan daripada zaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Pada setiap masa, orang di dalamnya banyak mengklaim bahwa mereka sedang dalam keadaan zaman edan. Maka dari itu, banyak orang yang sempat ditunjuk menjadi ratu adil. Misalnya Pangeran Diponegoro, Sukarno, bahkan Suharto pada awal kepemimpinannya. Kebetulan mereka semua memang berasal dari seputar Gunung Lawu. Hal ini membuat ramalan seperti pembenaran dan harapan bagi situasi bangsa di masa tertentu.

Ramalan Joyoboyo juga akan menarik jika dilihat dari segi ideologi dan keotentikan. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa ramalan ini memang asli ditulis dan dituturkan oleh Prabu Joyoboyo. Sabdapalon dan Noyogenggong yang sering disebut dalam ramalan ini, hidup ratusan tahun setelah masa hidup Prabu Joyoboyo. Sedangkan orang Belanda tentu belum ada ketika masa Joyoboyo. Ramalan ini juga menggunakan kata Allah, yang dekat dengan Islam, di satu sisi, dan Wedha dan banyak dewa-dewa Hindu di sisi lain.

Bagi orang yang percaya, mungkin hal ini makin menunjukkan kelebihan visi ke depan dari Joyoboyo. Ramalan Joyoboyo dianggap tepat dan bijaksana. Namun tentu bagi masyaratat yang telah lebih rasional, kita bisa lebih kritis dalam setiap isi dari ramalan ini. Mungkin kita tidak perlu terikat dengan membuatnya sebagai pedoman setiap peristiwa, namun bisa diapresiasi sebagai karya sastra dan panduan moral yang disusun oleh leluhur kita.

Related posts:

Tokoh Tokoh Wayang Kulit Secara Lengkap



sumber : Ramalan Joyoboyo

0 comments:

Post a Comment