Home » » Rauf Raphanus – Gencar Edukasi Papercraft Sambil Jualan di PeriKertas.com

Rauf Raphanus – Gencar Edukasi Papercraft Sambil Jualan di PeriKertas.com

Written By Mira Aprilia on Wednesday, 4 September 2013 | 22:22

Rauf Raphanus bersama rekannya, Julius Perdana, menginisiasi komunitas papercraft di Indonesia, www.PeriKertas.com. Rauf banyak mendapatkan project dari berbagai perusahaan dan agensi. Baik dari Indonesia, maupun internasional. Pria lulusan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor ini pun pernah mengelola project membuat papercraft untuk WWF International di Perancis. Berikut kutipan wawancara Tim Netpreneur Indonesia dengan Rauf Raphanus.

Netpreneur (N): Apa itu papercraft?

Rauf (R): Papercraft adalah sebuah kesenian dari kertas yang banyak berkembang di Eropa dan Jepang. Sedangkan di Indonesia, modelnya menggabungkan kedua negara tersebut. Kalau di Jepang, banyak karakter-karakter games. Sedangkan di Eropa banyak model untuk militer, seperti pesawat dan kapal perang.

Di Indonesia, mulai banyak desainer papercraft itu di tahun 2004 sampai 2005. Sekarang, Indonesia punya desainer sendiri. Jadi tidak melulu ambil desain dari negara lain. Sekarang di Paper-Replika.com ada sekitar 500 desain dari Indonesia.

Untuk model dan teknik pembuatan papercraft dari masing-masing negara tersebut memang berbeda. Tapi, ada beberapa langkah dasar pembuatan yang berlaku untuk semuanya. Yakni, desain dan rakit.

N: Soal PeriKertas.com?

R: Tujuan utama kami memang mengenalkan papercraft di Indonesia. Untuk edukasi. Jadi ada situs yang hadir duluan sebelum PeriKertas.com, yaitu Paper-Replika.com. Itu yang buat ada dua orang. Julius Perdana, sebagai desainer papercraft-nya, dan saya sendiri. Paper-Replika.com itu bentuknya situs pribadi. Jadi, di sana orang bisa unduh pola-pola papercraft. Sedangkan, PeriKertas.com lebih ke komunitasnya.

Mas Julius ini fokus sama desain-desain yang free di Paper-Replika.com. Ada juga beberapa desain dari desainer lain seperti saya yang fokusnya lebih ke project komersil. Project ini yang biasanya berhubungan dengan agensi, perusahaan, maupun perseorangan.

Saya punya motivasi dan obsesi untuk mengenalkan papercraft seperti origami. Saya ingin mengubah mindset orang bahwa kesenian kertas tidak hanya origami. Banyak. Salah satunya papercraft.

N: Tentang project komersil?

R: Sebetulnya, kami tidak hanya mengenalkan papercraft saja. Itu tujuan dasar. Tapi, ada tujuan lain juga, yaitu kami ingin menjual kesenian ini. Di sini (kesenian papercraft) sebetulnya ada gap atau kesempatan untuk menjual sesuatu. Jadi, Misalnya kita mau menjual sesuatu, contohnya jual sekop. Orang-orang tidak akan beli kalau mereka tidak tahu kegunaannya. Nah, sekarang, kami punya kerajinan, papercraft namanya. Terus, kami ingin menjual papercraft ini. Sehingga, bagaimana caranya kita harus mengedukasi orang-orang dan bikin mereka butuh.

Dalam satu tahun, kami bisa meng-handle sepuluh sampai 12 project. Biasanya, kami mengerjakan project per bulan. Tidak hanya project desain, tapi juga roadshow, pameran, atau workshop.

Salah satu project dari korporat itu kami pernah mengerjakan untuk iklan Bank BCA Flash. Terakhir juga sempat mengerjakan iklan untuk WWF International Perancis dan salah satu perusahaan di Australia.

N: Target pasarnya?

R: Target kami luar Indonesia. Kami memang ingin memperkenalkan negara Indonesia ke dunia internasional. Ini jauh lebih mudah. Selain itu, kadang kami kecewa sama beberapa orang di Indonesia yang masih belum menghargai karya seni. Kalau kami menjual ke luar Indonesia itu sangat dihargai. Walaupun cuma desainnya saja, belum jadi rakitannya, mereka sudah menghargai sangat tinggi.

Kalau di sini, kadang mereka melihat barang seni hanya dari bahannya, bukan dari seninya, bukan bagaimana cara kami mengerjakannya. Tapi, kami optimis soal  ini.

N: Komunitas?

R: Komunitas Peri Kertas ini hadir tahun 2009. Sejak awal memang sudah dikomersilkan. Namun, volumenya sudah jauh lebih besar sekarang. Sedangkan, Paper-Replika.com sendiri di tahun 2008. Komunitas ini tidak terbatas usia, gender, apalagi profesi. Yang namanya hobi ‘kan semua orang bisa ikutan. Tapi, yang pasti kita membatasi umur dari enam tahun. Anak umur segitu sudah lumayan kreatif untuk potong-potong, gunting, lem, dan lain sebagainya.

Komunitas ini tidak hanya di Bandung atau Jakarta saja. Sampai hari ini (30 Agustus 2013), sudah ada 30 regional di Indonesia dengan total anggota aktif sebanyak 5.000-an. Ini kami nilai masih sedikit. Karena, semakin banyak kami mengedukasi, memberitahukan ke orang-orang sampai diliput media, semakin banyak pula orang yang belum tahu.

Selain itu, kalau ada project dari korporat, kami biasanya lempar juga ke komunitas. Ada yang bisa mengerjakan atau tidak. Hal inilah yang membuat forumnya ramai. Karena terbagi secara regional, kami pun mengerjakan project secara regional. Misalnya ada korporat di Bali yang memberikan project, ya komunitas di Bali yang mengerjakan.

Masalah fee pun langsung dikasih ke regional. Tanpa dipotong sepeser pun dari Peri Pusat. Istilahnya, kami juga memberikan mereka (komunitas) pelajaran untuk lebih profesional. Tapi, kalau ada komplain atau protes, peri pusat ini pasti bantu. Saya koordinator nasionalnya.

N: Punya fasilitas free download untuk pola-pola papercraft-nya apa tidak rugi?

R: Free download. Nah, di sini kita bicara soal entrepreneur. Betapa penjualan itu bukan hanya hard selling. Penjualan itu bukan hanya kita menawarkan barang ke orang lain, kemudian dia beli. Tapi, penjualan di sini termasuk promosi. Salah satu jenis promosinya adalah itu, free download. Dan ini sangat jitu. Semakin banyak orang yang download secara gratis, no problem. Kami mendapatkan uang dari mana? Ya, dengan project-project itu. Ini biasanya ‘kencang’.

Saya pribadi pun supply alat-alat untuk papercraft. Lumayan. Jadi, income datang pun dari teman-teman sendiri. Harga lem atau ATK (alat tulis) yang dijual pun di bawah harga rata-rata. Sebetulnya memang tujuan utamanya bukan profit, tapi memperbesar komunitas ini. Kalau misalnya dipersulit (menaikkan harga-harga alat papercraft), saya rasa juga tidak akan baik.

N: Target di kemudian hari?

R: Ingin punya workshop offline di beberapa tempat dan membuat tempat kursus untuk mendesain. Merakit sebetulnya semua orang bisa dengan otodidak. Tapi, mendesain, kadang-kadang orang belajar harus dengan tutornya.

***

(psr)

Diterbitkan pada tanggal 03/09/2013 dan dibaca 51 kali.



sumber : Rauf Raphanus – Gencar Edukasi Papercraft Sambil Jualan di PeriKertas.com

0 comments:

Post a Comment